Surat ini kuterima minggu lalu. Waktu aku masih belum membuka rentalku. Aku masih asyik menyeruput kopi dan merokok seperti kebiasaanku setiap pagi. Dia datang dengan tergesa-gesa dengan baju warna biru tua rapi seperti baru disetrika, dengan jeans yang agak lusuh tapi rapi. Meskipun keringat menetes dari wajahnya yang agak kemarah-merahan tapi rambutnya tetap rapi. Dia menyerahkan satu map kecil berisi buku harian katanya.
Ketika mendengar pintu diketuk seseorang, dengan masih memakai sarung dan kaus aku membuka pintu. “Pe!, kenapa pagi-pagi begini kamu sudah kesini? Biasanya tidak pernah sepagi ini”. Kataku setelah membuka pintu.
“Maaf Tok, aku buru-buru. Aku mau pergi jauh. Jauh dari kehidupan ini. Aku hanya ingin kau menyimpan ini. Anggap saja ini kenang-kenangan dariku”. Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Pe padaku.
Kulihat dia pergi, sambil sambil membetulkan tali sepatu kulit yang agak kecoklatan dia melambaikan tangan padaku. Tanpa melihat lambaian tanganku dia pergi dengan satu tas trevel berwarna biru muda di pundaknya.
Waktu aku membuka map itu, ada beberapa lembaran yang tersusun rapi dan dipojok kanan atas terdapat terdapat nomor urut dari lembaran tersebut. Aku mulai membuka dan membaca lembaran kertas yang warnanya sudah berubah menjadi agak kecoklatan ini.
Lima tahun yang lalu
Aku memiliki seorang teman bernama Rahayu, kulitnya putih, semampai, rambut agak merah, wajah oval, dan humoris. Aku tidak tahu kenapa aku memanggilnya Tores. Diapun suka aku panggil demikian. Tanpa terasa tiga tahun kami lalui bersama baik suka maupun duka. Ketika kami menempuh ujian akhir bersama, dia duduk tepat di depanku. Saat sebelum masuk aku bertanya padanya setelah ini kamu melanjutkan kemana. Tanyaku membuka percakapan sambil membuang rasa cemas menghadapi soal ujian. Aku tidak tahu Pe! Jawabnya enteng. Sama aku ae, nanti tak bantu ujiannya kataku yang mulai serius dengan percakapan ini. Dia menjawab “serius kamu Pe!”. Akhirnya kami benar-benar sekolah di sekolah yang sama.
Kami sama-sama tidak tahu darimana kami mulai merasakan rasa itu. Memang kami selalu bersama baik itu jam istirahat maupun jam pelajaran, karena kami satu derat bangku. Akhirnya kami lulus dan sekolah di sekolahan yang sama seperti janji kami berdua. Dan lebih dari itu kami juga mulai pacaran.
Dua tahun yang lalu
Tiga tahun sudah kami bersama-sama menjalani pahitnya manisnya masa SMA. Hubungan kami lebih dekat lagi, kami sudah saling pengertian satu sama lain. Hal ini sampai kami lulus SMA.
Setelah lulus SMA aku bekerja di Surabaya ikut saudara jauh yang berhasil dalam perantauan. Aku selalui menelponnya setiap hari. Sampai suatu ketika aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, Tanpa terasa sudah lebih dari lima bulan aku tidak pernah berhubungan dengan dia. Ini tidak biasa, karena kami selalu saling telepon setiap pulang sekolah. Waktu kami masih sekolah.
Ketika aku menelponnya dan bertanya tentang kabarnya seperti kebiasaanku ketika mulai pembicaraan dia hanya berkata singkat ”Pe! Maino kesini, bapak menunggumu. Dia tidak membedakan antara yang kaya dan miskin, baginya itu sama saja. Yang penting ialah kesungguhan”. Aku tidak mengerti maksud pembicaraan itu. Aku bertanya Apa artinya itu. Dia hanya menjawab singkat ”Kalau kamu masih punya rasa kangen sama aku, aku tunggu dirumah”. Aku semakin sibuk dengan pekerjaanku sendiri. Sudah tiga bulan aku tidak menghubunginya sejak teleponku yang terakhir.
Tiba-tiba pada suatu sore aku ingin sekali pulang, tidak tahu kenapa?. Dengan rintikan hujan aku menunggu angkot selanjutnya aku teruskan naik bus jurusan Trenggalek. Akhirnya sampai juga di Porwoasri kota kecil tempat aku tinggal. Ketika aku telah sampai di ruamah aku langsung mencari wartel untuk menelpon Tores pacarku.
Tak tahan dengan bunyi tat-tit tat-tut, aku tutup telepon. Hal ini aku ulangi sampai lima kali. Akhirnya di ujung sana telepon diangkat juga. “Halo! Saya berbicara dengan siapa?”. Itu suara Tores aku tidak pernah melupakan suaranya.
Aku menjawab “ini aku Pe”
“Oalah kamu tah Pe” jawabnya dengan enaknya. Dia tidak seperti biasanya, dia langsung memberikan telepon pada orang lain. “Pe!, Erna disini, kamu bicara saja sama dia”. Dadaku berdebar-debar waktu mendengar dia berkata seperti itu. Aku bingung ada apa sebenarnya. Tidak seperti biasanya dia melempar telepon dariku.
“Pe!, aku Erna. ”Suara itu mengagetkan perasaanku yang memang kacau merasakan sikap Toris yang aneh tidak seperti biasanya. Dengan suara sedikit kaget aku menjawab “oh ya ada apa Er gimana kabar kamu?”. Aku basa-basi. Tanpa menjawab pertanyaanku Erna langsung berkata dengan nada sedikit isak yang membuat aku semakin penasaran apa sebenarnya yang terjadi ”Pe! Rahayu minggu depan akan menikah”. Aku memdengar apa yang diucapaknya itu, tapi setelah itu aku tidak tahu kemana kemudian pikiranku melayang setelah mendengar kata-kata itu.
Satu minggu setelah itu
Aku tidak dapat melupakan kata-kata itu, akhirnya aku menemukan pelarianku.
Sejak saat itu sebatang rokok mulai akrab diantara jemari-jemariku. Ketika merokok aku dapat merasakan lembut tangannya, pirang rambutnya, lurus rambutnya, kulitnya yang putih. Setidaknya dengan dengan merokok aku dapat mengingat dirinya tanpa harus menyakiti diriku sendiri yang telah sakit.
Minggu lalu
Kini aku merenungi hidupku, untuk apa aku merokok. Untuk apa aku memikirkan yang telah meninggalkan aku. Sampai pada akhirnya aku menemukan sebuah tulisan untuk menghibur diriku sendiri.
Dengan Asap Rokok Asaku Melayang
Hidup adalah sebatang rokok
Takkan ada akhir tanpa awal
Yang masuk dan keluar
Adalah jalan suatu perjalanan
Tanpa diminta dan disuruh
Bersama asap asaku melayang
Dengan menikmati kita merasa memiliki
Tanpa pernah ingin melepas
Walaupun itu terlepas
bebas tanpa batas
ke awan
benarkah
demikian kehidupan
Setelah membaca lembaran-lembaran itu, aku kini tahu kenapa dia sangat sulit bahkan akan marah apabila diminta berhenti merokok. Meskipun kenyataanya dia sakit.
Tugas UAS Mata Kuliah Penulisan Kreatif
Cerpen
Nama : Rosyidi Musthofa
No Reg : 032074036
Jurusan : Pendidikan Bahasadan Sastra Indonesia Reguler