Oleh: unesabi2003 | Juni 2, 2008

Kisah Bocah Penggenggam Batu

Sebuah kisah melintas dalam benak. Kisah tentang pertarungan antara kebenaran dengan kezaliman. Sebuah kisah pengantar tidur yang meluncur dari mulut wanita mulia yang di bawah tapak kakinya surga berada. Di sebuah padang, tempat ribuan prajurit mempertaruhkan nyawa. Seorang raksasa bernama Jalut baru saja menyelesaikan tugasnya mengantarkan lembaran-lembaran nyawa memenuhi janji Tuhan. Kini ia berdiri angkuh, sombong, menantang, dan membuat jiwa-jiwa yang ada di depannya kerdil. Hatta, seorang bocah penggembala yang bertugas mengantar pesan dan perbekalan prajurit mendengar sumpah serapah sang tiran. Ia maju memenuhi tantangan, menyerang, dan tak kenal gentar sang bocah maju dan melawan.Terjadilah pertarungan yang tak seimbang dan ajaib, sang bocah yang bersenjatakan ketapel dan batu yang ia pungut di jalan mampu menjatuhkan dan menumpas sang tiran hingga bumi kembali diselimuti kebaikan. Itulah kisah Daud as yang dikisahkan ummi menjelang aku tidur. Kisah yang mengilhami diri untuk tetap berada di barisan kebenaran dan tak gentar untuk menyerukannya walaupun harus selembar nyawa jadi taruhannya.
Jalanan Gaza Palestin di suatu siang di bulan suci. Pertarungan Daud dan Jalut tersaji kembali. Akulah penjelmahan Daud; Seorang bocah dua belas tahun, dengan batu di tangan, dan percaya akan janji Tuhannya; Hidup mulia atau syahid di jalanNya. Di depanku sang Jalut berdiri dengan angkuh. Kini ia berujud sebuah baja yang berjalan dengan roda besi bernama Merkava, tank lapis baja terbaik dengan senjata senapan otomatis yang mampu mengoyak tubuh kecilku dalam sekejap dan kanon 35 mm yang bila beraksi menghancurkan rumah-rumah dan masjid dalam sekali tepuk. Akan tetapi Aku tak gentar, terus berdzikir mohon pertolongannya, dan batu itu kugenggam erat siap memenuhi tugasnya. Sebuah tugas mulia menghancurkan sang tiran atau mengantarkan sang pelontar memenuhi janji Tuhan. Wahai Yahudi aku tidak membencimu, akan tetapi aku benci perbuatanmu yang mengotori bumi mulia ini dengan kezaliman, tirani dan dengan congkaknya mengikrarkan diri sebagai bangsa tertinggi diantara bangsa-bangsa lainnya. Aku benci dengan tingkah lakumu merobohkan rumah-rumah dan masjid serta mengusir penghuninya Yang membunuh dan membantai manusia seperti yang pernah dilakukan NAZI terhadapmu. Aku benci terhadap segala perbuatanmu yg mengotori bumi mulia ini dan siap membelanya walau tubuh kecilku luluh lantak, walau nyawa yg selembar ini hilang, karena semua orang pasti mati, apakah tertusuk pedang ketika jihad atau terbaring di ranjang.

Dan bumi sekali lagi menjadi saksi. Seorang anak manusia telah memenuhi janji TuhanNya. Ketika gerimis tipis basahi bumi, kutatap wajahmu dari kebisuan layar cahaya. Jiwa yg ikhlas dan gagah berani siap menghadap Sang Rabbul Izzati. Dan sayup adzan Al Aqsa kabarkan beritamu nun jauh di sana.

Nur Fajarudin/032074033

Oleh: unesabi2003 | Mei 9, 2008

Tentang Engkau

Ingin ku tulis syair tentang engkau

Sunyi tertinggi di malam hari

Saat aku berkaca langit

Dan purnama ibarat lampu yang menemani

Takkan pernah dinyalakan

Tak bisa dipadamkan

Oleh: unesabi2003 | Mei 6, 2008

Malang in memories

Oleh: unesabi2003 | Mei 6, 2008

Bersama Asap Rokok Asaku Melayang

Surat ini kuterima minggu lalu. Waktu aku masih belum membuka rentalku. Aku masih asyik menyeruput kopi dan merokok seperti kebiasaanku setiap pagi. Dia datang dengan tergesa-gesa dengan baju warna biru tua rapi seperti baru disetrika, dengan jeans yang agak lusuh tapi rapi. Meskipun keringat menetes dari wajahnya yang agak kemarah-merahan tapi rambutnya tetap rapi. Dia menyerahkan satu map kecil berisi buku harian katanya.

Ketika mendengar pintu diketuk seseorang, dengan masih memakai sarung dan kaus aku membuka pintu. “Pe!, kenapa pagi-pagi begini kamu sudah kesini? Biasanya tidak pernah sepagi ini”. Kataku setelah membuka pintu.

“Maaf Tok, aku buru-buru. Aku mau pergi jauh. Jauh dari kehidupan ini. Aku hanya ingin kau menyimpan ini. Anggap saja ini kenang-kenangan dariku”. Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Pe padaku.

Kulihat dia pergi, sambil sambil membetulkan tali sepatu kulit yang agak kecoklatan dia melambaikan tangan padaku. Tanpa melihat lambaian tanganku dia pergi dengan satu tas trevel berwarna biru muda di pundaknya.

Waktu aku membuka map itu, ada beberapa lembaran yang tersusun rapi dan dipojok kanan atas terdapat terdapat nomor urut dari lembaran tersebut. Aku mulai membuka dan membaca lembaran kertas yang warnanya sudah berubah menjadi agak kecoklatan ini.

Lima tahun yang lalu

Aku memiliki seorang teman bernama Rahayu, kulitnya putih, semampai, rambut agak merah, wajah oval, dan humoris. Aku tidak tahu kenapa aku memanggilnya Tores. Diapun suka aku panggil demikian. Tanpa terasa tiga tahun kami lalui bersama baik suka maupun duka. Ketika kami menempuh ujian akhir bersama, dia duduk tepat di depanku. Saat sebelum masuk aku bertanya padanya setelah ini kamu melanjutkan kemana. Tanyaku membuka percakapan sambil membuang rasa cemas menghadapi soal ujian. Aku tidak tahu Pe! Jawabnya enteng. Sama aku ae, nanti tak bantu ujiannya kataku yang mulai serius dengan percakapan ini. Dia menjawab “serius kamu Pe!”. Akhirnya kami benar-benar sekolah di sekolah yang sama.

Kami sama-sama tidak tahu darimana kami mulai merasakan rasa itu. Memang kami selalu bersama baik itu jam istirahat maupun jam pelajaran, karena kami satu derat bangku. Akhirnya kami lulus dan sekolah di sekolahan yang sama seperti janji kami berdua. Dan lebih dari itu kami juga mulai pacaran.

Dua tahun yang lalu

Tiga tahun sudah kami bersama-sama menjalani pahitnya manisnya masa SMA. Hubungan kami lebih dekat lagi, kami sudah saling pengertian satu sama lain. Hal ini sampai kami lulus SMA.

Setelah lulus SMA aku bekerja di Surabaya ikut saudara jauh yang berhasil dalam perantauan. Aku selalui menelponnya setiap hari. Sampai suatu ketika aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, Tanpa terasa sudah lebih dari lima bulan aku tidak pernah berhubungan dengan dia. Ini tidak biasa, karena kami selalu saling telepon setiap pulang sekolah. Waktu kami masih sekolah.

Ketika aku menelponnya dan bertanya tentang kabarnya seperti kebiasaanku ketika mulai pembicaraan dia hanya berkata singkat ”Pe! Maino kesini, bapak menunggumu. Dia tidak membedakan antara yang kaya dan miskin, baginya itu sama saja. Yang penting ialah kesungguhan”. Aku tidak mengerti maksud pembicaraan itu. Aku bertanya Apa artinya itu. Dia hanya menjawab singkat ”Kalau kamu masih punya rasa kangen sama aku, aku tunggu dirumah”. Aku semakin sibuk dengan pekerjaanku sendiri. Sudah tiga bulan aku tidak menghubunginya sejak teleponku yang terakhir.

Tiba-tiba pada suatu sore aku ingin sekali pulang, tidak tahu kenapa?. Dengan rintikan hujan aku menunggu angkot selanjutnya aku teruskan naik bus jurusan Trenggalek. Akhirnya sampai juga di Porwoasri kota kecil tempat aku tinggal. Ketika aku telah sampai di ruamah aku langsung mencari wartel untuk menelpon Tores pacarku.

Tak tahan dengan bunyi tat-tit tat-tut, aku tutup telepon. Hal ini aku ulangi sampai lima kali. Akhirnya di ujung sana telepon diangkat juga. “Halo! Saya berbicara dengan siapa?”. Itu suara Tores aku tidak pernah melupakan suaranya.

Aku menjawab “ini aku Pe”

“Oalah kamu tah Pe” jawabnya dengan enaknya. Dia tidak seperti biasanya, dia langsung memberikan telepon pada orang lain. “Pe!, Erna disini, kamu bicara saja sama dia”. Dadaku berdebar-debar waktu mendengar dia berkata seperti itu. Aku bingung ada apa sebenarnya. Tidak seperti biasanya dia melempar telepon dariku.

“Pe!, aku Erna. ”Suara itu mengagetkan perasaanku yang memang kacau merasakan sikap Toris yang aneh tidak seperti biasanya. Dengan suara sedikit kaget aku menjawab “oh ya ada apa Er gimana kabar kamu?”. Aku basa-basi. Tanpa menjawab pertanyaanku Erna langsung berkata dengan nada sedikit isak yang membuat aku semakin penasaran apa sebenarnya yang terjadi ”Pe! Rahayu minggu depan akan menikah”. Aku memdengar apa yang diucapaknya itu, tapi setelah itu aku tidak tahu kemana kemudian pikiranku melayang setelah mendengar kata-kata itu.

Satu minggu setelah itu

Aku tidak dapat melupakan kata-kata itu, akhirnya aku menemukan pelarianku.

Sejak saat itu sebatang rokok mulai akrab diantara jemari-jemariku. Ketika merokok aku dapat merasakan lembut tangannya, pirang rambutnya, lurus rambutnya, kulitnya yang putih. Setidaknya dengan dengan merokok aku dapat mengingat dirinya tanpa harus menyakiti diriku sendiri yang telah sakit.

Minggu lalu

Kini aku merenungi hidupku, untuk apa aku merokok. Untuk apa aku memikirkan yang telah meninggalkan aku. Sampai pada akhirnya aku menemukan sebuah tulisan untuk menghibur diriku sendiri.

Dengan Asap Rokok Asaku Melayang

Hidup adalah sebatang rokok

Takkan ada akhir tanpa awal

Yang masuk dan keluar

Adalah jalan suatu perjalanan

Tanpa diminta dan disuruh

Bersama asap asaku melayang

Dengan menikmati kita merasa memiliki

Tanpa pernah ingin melepas

Walaupun itu terlepas

bebas tanpa batas

ke awan

benarkah

demikian kehidupan

Setelah membaca lembaran-lembaran itu, aku kini tahu kenapa dia sangat sulit bahkan akan marah apabila diminta berhenti merokok. Meskipun kenyataanya dia sakit.

Tugas UAS Mata Kuliah Penulisan Kreatif

Cerpen

Nama : Rosyidi Musthofa

No Reg : 032074036

Jurusan : Pendidikan Bahasadan Sastra Indonesia Reguler

Oleh: unesabi2003 | Mei 6, 2008

Mencari bentuk

Kutelanjangi diri

Tak lain hanya untuk

Mencari sebuah mutiara

Sebuah mutiara hitam yang menjadi

Perebutan cahaya suci dan panas api

Sebuah bentuk darah

Mutiara hitam, hitam kelam

Sebuah mutiara hitam

Kemanakah harus kulabuh kan sebuah benda

Mutiara hitam

Panas bara

Atau cahaya suci

Panas bara membuat nya membara

Cahya suci memuaikan bentuk, isi memudarkan

Segenggam mutiara hitam

Bebaskan bentuk temukan …… (untuk yang m,encari )

Oleh: unesabi2003 | Mei 6, 2008

Sebuah mentari pagi

Cahayamu menembus jiwa

Jiwaku yang sedang merindu

Rindu pada cahaya

Cahaya yang halus

Sehalus angin malam, selembut udara pagi

Seperti itu?

Ya memang benar seperti itu!

Cahaya sebening kristal

Melambaikan cahaya

Sebuah cahaya penyejuk jiwa

Jiwa yang kosong

Kosong cahaya kosong isi

Seberkas cahaya melambai

Membangunkan yang sedang tidur

Tidur dari mimpi panjang

Panjang tanpa tembus pandang (7 januari 2008. 10.00)

Oleh: unesabi2003 | Mei 6, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori